Rabu, 10 November 2010

Rp 7 miliar uang palsu beredar di sumut


Peredaran uang palsu diwilayah sumatera utara menurun dibanding dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2006, sampai bulan september, bank indonesia mencatat ada sekitar Rp 7 miliar. Sedangkan peredaran uang palsu di sumut pada 2005 sebesar Rp 13 miliar. Pada 2004, peredaran uang palsu menurut catatan BI hanya sekitar Rp 5miliar. Artinya, terjadi fluktuasi peredaran uang palsu di sumut selama 3 tahun terakhir.
“jika dibanding dengan provinsi lain secara nasional, data tersebut dinilai wajar. Peredarannya masih lebih banyak di jawa dan bali. Setiap hari ada saja kita temukan uang pecahan Rp 5000, Rp 10000, dan Rp 100000”, kata direktur BI kantor regional BI Romeo Rissal.
Kecenderungan peredaran uang palsu, tutur Romeo, sebanding dengan banyaknya uang yang beredar di masyarakat. BI memperoleh data jumlah peredaran uang palsu dari arus uang yang masuk ke BI. Uang yang berasal dari berbagai bank di proses dengan memakai mesin yang bisa memisahkan uang lusuh, uang yang layak beredar, dan uang palsu. Pecahan uang palsu secara otomatis terpisah dengan yang lain.
Dari seluruh uang palsu, pecahan uang Rp 100000 kertas paling mendominasi. Menurut Romeo, pecahan Rp 100000 dinilai lebih menguntungkan daripada pecahan uang lain.
BI, kata Romeo, mengakui peredaran uang palsu di sumut terus saja terjadi. Salah satu peredaran Uang palsu yang bisa digagalkan kepolisian terjadi pada 5 oktober 2006. Senada dengan data kepolisian, peredaran uang palsu di sumut berasal daripembuat di luar sumut.
Romeo menuturkan, semakin banyak uang palsu yang beredar di masyarakat, memperbesar peluang banyaknya peredaran uang palsu. Kondisi itu memicu inflasi. Karena itu, BI menjaga kestabilan peredaran uang yang ada di masyarakat.  Salah satu langkah yang diambil adalah menurunkan suku bunga. Hanya saja, peredaran uang tidak bisadipantau secara parsial, melainkan perlu dipantau secara nasional.

Sumber : www.kompas.com, 14 oktober 2006

Pendapat : 

Menurut pendapat saya, peredaran uang palsu dalam jumlah besar dapat menimbulkan inflasi karena, jumlah uang yang beredar melebihi kebutuhan, makadapat mengakibatkan kenaikan harga-harga barang secara umum.  Uang palsu dapat beredar karena tidak ketatnya pengawasan pihak-pihak yang berwajib. Seandainya saja mereka lebih tegas lagi dalam menangani hal ini,saya rasa peredaran uang palsu dapat dihindarkan. Memang, teori dengan praktek memang berbeda, tapi setidaknya BI sebagai bank yang mengedarkan uang ke masyarakat, harus bisa memberi solusi kepada pihak yang berwajib untuk dapat membedakan dan mengetahui bagaimana seluk-beluk orang-orang membuat uang palsu, saya rasa BI pasti tahu. Sebenarnya gampang saja, kalau negara ini ingin terbebas darinperedaran uang palsu, beri saja hukuman mati atau gantung atau tembak ditempat saja agar tidak ada orang yang berani mengedarkan uang palsu. Kalau dihukum seumur hidup, setidaknya pelaku dapat saja bebas karena mendapat remisi, dan ia pasti akan mengedarkan
kembali uang palsu, karena pasti ia kesulitan mencari pekerjaan. Sebenarnya inflasi dapat diatasi yaitu dengan cara pemerintah memberikan kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan-kebijakan lain yang dapat menguntungkan masyarakat, walaupun inflasi sedang berlangsung inflasi dapat timbul karena naiknya permintaan barang-barang, bertambahnya jumlah uang yang beredar, dan naiknya biaya produksi.

Harga sejumlah bahan pokok pasca lebaran belum normal


Yogyakarta, kompas – menginjak pekan kedua setelah lebaran, harga beberapa bahan kebutuhan pokok di pasar tradisional belum kembali normal. Diperkirakan, harga akan kembali normal setelah bulan Syawal berakhir. Beberapa penjual beras belum turun sejak lebaran. Sutinem (50) masih menjual beras C-4 asal Wates, Yogyakarta, seharga Rp 4.400 per kilogram. Sebelum lebaran, harga beras tersebut hanya Rp 4.200 per kilogram. Untuk beras C-4 asal Delanggu, Solo, harganya bisa mencapai Rp. 4.600 per kilogram.
Novi (27) juga masih menjual beras dengan “harga Lebaran”. Beras wangi yang sebelumnya dijual seharga Rp. 4.300 kini naik menjadi Rp. 4500. Menurut dia, hal ini sudah berlangsung sejak dua pekan sebelum lebaran.
Selain beras, gula pasir juga masih bertahan pada Rp. 5.800 per kilogram, belum turun ke harga normal Rp. 5.600. menurut Danang (26), yang berjual di Toko Fatina, Pasar Kranggan, harga beras dan gula pasir belum turun karena masih banyak pembeli yang berbelanja untuk keperluan halalbihalal di bulan Syawal. “kemungkian setelah bulan syawal sepi, harga-harga akan turun lagi,“ ujar Danang.
Sementara, harga bawang putih juga naik hingga mencapai Rp.8500 per kilogram . diperkirakan, dua minggu lagi stok bawang merah akan habis dan harga bawang merah akan menanjak kembali.

Sumber : kompas.com,6 november 2006

Pendapat : 

Menurut saya, sebenarnya hal ini belum dapat dikatakan sebagai inflasi, tapi setidaknya inflasi ringan/sementara karena harga-harga kebutuhan pokok masih dapat turun kembali setelah lebaran. Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok menjelang lebaran karena, banyaknya permintaan yang harus terpenuhi, apalagi moment ini hanya terjadi satu tahun sekali, jadi dimanfaatkan oleh para pedagang untuk mengambil untung yang sebesar-besarnya. Tetapi hal ini masih dapat dipantau pemerintah, jadi tidak terlalu banyak merugikan masyarakat, walaupun banyak yang merasa dirugikan termasuk saya. Inflasi yang sesungguhnya, berjangka waktu panjang. Contohnya pada tahun 1993, uang senilai Rp 500,- dapat digunakan untuk membeli mie ayam, tetapi dibandingkan tahun 2010, uang Rp 500,- hanya dapat digunakan untuk membeli permen saja. Sungguh menyedihkan. Seandainya pemerintah lebih tanggap dan peduli lagi pada warganya, inflasi sekecil apapun tidak akan menyusahkan warganya. Sebenarnya yang sangat merugikan negara ini adalah koruptornya, bukan inflasinya. Bayangkan saja, satu orang korupsi dapat menghasilkan uang puluhan bahkan ratusan milyar dalam waktu sehari, bagaimana kalau yang berkorupsi ratusan orang, pasti akan hancur negara ini melebihi hancur karena inflasi.

Jumat, 29 Oktober 2010

tentang BAAK


Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) adalah unsur pelaksana dan penanggung jawab administrasi akademik dan kemahasiswaan yang mempunyai tugas dan tanggung jawab mengembangkan sistem program dan sumber daya biro, mengkoordinasikan, mengintegrasikan dan mengendalikan kualitas pelaksanaan sistem dan program pelayanan, serta mempertanggung jawabkan kinerja administrasi akademik.
 
VISI
Menjadikan BAAK sebagai unit penunjang utama yang mengedepankan layanan administrasi yang professional.
 
MISI
  • Menyelenggarakan pelayanan administrasi yang cepat dan akurat berbasis pada teknologi.
  • Melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjaga moral dan senantiasa mengedepankan etika.
  • Meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pelayanan.
 
TUJUAN
Memberikan layanan administrasi yang prima, lengkap dan terbuka.
 
MOTO
Saya Berikan Yang Terbaik
SARANA
  • SIM Akademik
  • SIM Kemahasiswaan
  • SIM Reporting
  • SIM Utilitas Ruang Kuliah
  • SIM Beasiswa (dalam proses penyempurnaan)
FASILITAS YANG DAPAT DIMANFAATKAN OLEH MAHASISWA
  • Ruang Student Services
  • Meeting Room