Selasa, 19 Oktober 2010

Artikel Sosiologi Wilayah Baduy Tetap Dilarang Dijadikan Objek Wisata

      Wilayah perkanmpungan suku Baduy di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tetap dilarang dijadikan objek wisata bagi orang luar Baduy, kecuali datang untuk sekedar saba (duduluran) atau bersilaturahmi.     " Kita hanya izinkan orang lain masuk ke kampung kami untuk sekadar saba saja. Kalau dijadikan tempat rekreasi, apalagi dijadikan objek wisata kita larang", kata Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak, Jaro Dainah diserang. Jaro Dainah mengatakan itu berkaitan dengan adanya keinginan pemerintah daerah setempat unuk menjadikan perkampungan Baduy sebagai salah satu tempat wisata.
      


        Jaro mengatakan itu di sela-sela Seminar Nasional "Menyejahterakan masyarakat Baduy melalui perlindungan terhadap tradisi, adat, dan hak ulayat mereka" yang diprakarsai Paguyuban warga Banten (punwnten) dan Yayasan Musyawarah Baduy.
     

        Menurut Dainah, selain sudah banyak masalah timbul dari banyaknya kunjungan-kunjungan warga luar yang membawa pengaruh terhadap lingkungan masyarakat maupun alamnya.
      

       "Jka dibiarkan terus begitu saja, akan berdampak terhadap kelestarian alam, sumber air, dan hutan lindung yang berada disekitarnya. Saat ini, sudah terasa dampak negatifnya, kata Dainah.
      


         Dampak lain yang ditimbulkan jika djadikan objek wisata bagi warga Baduy tersebut, menurut Dainah, dapat mempengaruhi pola pikir dan  perilaku masyarakat Baduy, termasuk budaya-budaya luar yang sudah banyak ditiru, seperti cara berpakaian.
     


          Sejak 1992, Pemerintah Kabupaten Lebak menetapkan Baduy sebagai objek wisata, termasuk dalam tujuh tempat wisata yang dikomersilkan, dan sejak itulah banyak wisatawan yang berkunjung ke wilayah  Baduy dengan tarif yang relatif murah, antara Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per orang.
     


           Padahal pemasukan terhadap retribusi  daerah dari objek wisata tersebut sangat kecil, berkisar antara Rp 8.000.000 sampai Rp 9.000.000 per tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan dampak kerusakan yang ditmbulkan dari kedatangan wisatawan.


                                                                         










                                                                        





                 (Sumber : www.suara merdekacom, 05 November 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar